Studi Metafisika dan Meta-Teori terhadap Islam Nusantara di Indonesia

0
285

Salah satu pertanyaan sentral yang pernah disampaikan oleh Clifford Greertz atas keprihatinannya melihat perkembangan Islam di Indonesia adalah mengapa transformasi dalam bidang keagamaan di Indonesia tidak melahirkan suatu sintesis keagamaan yang mampu menjadikan Indonesia satu?

Pertemuan negeri ini dengan peradaban besar Hindu/Budha, Islam dan Kristen, misalnya, hanya melahirkan trikotomi abangan, santri, dan priyayi di Jawa yang memperlihatkan adanya tiga struktur sosial di dalam masyarakat.

Greertz membayangkan bahwa terpaparnya Indoesia dengan gelombang besar peradaban akan melahirkan suatu corak Islam yang mungkin,membawa kita untuk sampai kepada apa yang disebut islam Nusantara.

Persebaran Islam di Nusantara sendiri memperlihatkan suatu tantangan besar bagi “keberagaman” dalam “keberagaman” karena lokalitas agama memberiksn variasi dengan spektrum yang begitu luas.

Membangun Islam yang satu tentu akan terperangkap dalam bahaya esensialisme yang melahirkan pembakuan yang selain penuh perdebatan dengan potensi resistensi, juga membatasi kemajuan Islam dalam memperluas skala pengaruhnya dalam kehidupan umat.

Keberadaan Islam di Nusantara dengan segala coraknya membentuk suatu eksistensi yang mengakar pada suatu seting historis dan diterima – diamini secara kultural, namun dipersalahkan secara politis karena ia tidak menyumbangkan pada “keseragaman” yang dituntut oleh negara.

Untuk menuju pada suatu keluhuran Muslim dalam bernegara, berbangsa dan bermasyarakat dibutuhkan transformasi dalam tiga ranah secara mendasar.

Pertama, transformasi lokalitas yang memungkinkan konsep Nusantara yang tersebar di berbagai wilayah geografis diselesaikan dengan suatu jaringan komunikasi yang membentuk apa yang disebut Anderson sebagai “komunitas terbayang”.

Kedua, kelompok muslim di Nusantara hidup dalam parameter yang berhimpitan dengan etnis dan kelas.

Ketiga, Islam Nusantara berhadapan dengan status politik regional agama dalam hubungannya dengan Negara yang menempatkan Islam sebagai komoditi politik.

Ringkasnya, buku ini berupaya menolak singularisasi dan esensialisasi Islam Nusantara, dan mengembalikannya menjadi penanda cair yang boleh dimaknai dan diperebutkan Muslim manapun di Asia Tenggara. Selain itu, penulis juga menyadarkan bahwa Islam Nusantara perlu membangun dasar epistemologi yang kokoh agar dapat bukan saja mempertahankan tapi juga mengembangkan peradabannya secara lebih kuat dan produktif.

Judul Buku : Studi Metafisika dan Meta-Teori terhadap Islam Nusantara di Indonesia

Penulis : Kammaruzzaman Bustamam-Ahmad

Penerbit : Bandar Publishing

Cetak : Pertama, Februari 2017

ISBN : 978-602-1632-72-7

Tebal : xxii + 278 hlm

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here