Stigma Media dan Terorisme

Kategori: Buku | 205 Kali Dilihat
Stigma Media dan Terorisme Reviewed by Bandar Publishing on . This Is Article About Stigma Media dan Terorisme

Judul Buku  : Stigma Media dan Terorisme Penulis        : Mubarok, Muna Madrah Penyunting  : Mukhlisuddin Ilyas Penerbit      : Bandar Publishing Cetak         : Pertama, Oktober 2012 ISBN : 978-602-18421-3- Buku ini bertujuan untuk melihat dengan lebih jelas bagaimana label itu dituangkan dalam bentuk “text”.… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga:Rp 70.000
Order via SMS

+628116880801

Format SMS : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : smt2019109
Stok Tersedia
Kg
10-09-2019
Detail Produk "Stigma Media dan Terorisme"

Judul Buku  : Stigma Media dan Terorisme
Penulis        : Mubarok, Muna Madrah
Penyunting  : Mukhlisuddin Ilyas
Penerbit      : Bandar Publishing
Cetak         : Pertama, Oktober 2012
ISBN : 978-602-18421-3-

Buku ini bertujuan untuk melihat dengan lebih jelas bagaimana label itu dituangkan dalam bentuk “text”. Penulis melalui kasus yang di angkatnya yaitu pemberitaan terorisme sebenarnya ingin membangun counter atas klaim bahwa pemberitaan merupakan fakta yang harus di terima, sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat umum.

Sayangnya dikalangan masyarakat ada kecenderungan untuk melihat bahwa teks media selalu bersifat ideologis. Gencarnya pemberitaan seringkali tidak memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk membedakan antara kuasa teks itu sendiri dengan pengaruh kuasa struktur makro yang secara sengaja atau tidak sengaja merekontruksi, merepresentasikan dan memaknai teks tersebut.

Bahwasanya ada sederet panjang campur tangan sebelum pemberitaan itu dapat disuguhkan kepada masyarakat. Sehingga seharusnya masyarakat dengan jernih pula dapat memilah dan melihat dan memutuskan tindakan atas suatu pemberitaan. Sayang, gencarnya pemberitaan terorisme seolah tidak memberi waku lagi bagi kita untuk berfikir, dan terpaksa menelan apa-apa saja yang disajikan oleh media.

Secara filosofi penulis mencoba menjelaskan bagaimana kepentingan-kepentingan yang mendominasi media itu muncul. Bagaimana gagasan Gramsci tentang hegemoni yang dikembangkan oleh Althuser dengan konsep Aparatus Negara Represif (Repressive State Apparatuses, RSA) serta Aparatus Negara Ideologis (Ideological State Apparatuses, ISA).

Media massa dalam hal ini tidaklah berfungsi dengan cara-cara penindasan secara fisik. Melainkan dengan menyebarkan gagasan-gagasan dominan yang diproduksi oleh kelas yang dominan yang sedang menguasai negara.

Dialetika tentang ideologi tersebut membantu memberikan kita gambaran bagaimana posisi media ketika memaparkan realitas yang dihadapi kelompok yang dianggap menyimpang dari ideologi kelompok berkuasa.

Gambaran media mengenai kelompok minoritas ini tidak jarang dilakukan secara stereotipikal atau merendahkan. Stereotip terhadap kelompook minoritas terjadi baik di media cetak, elektronik, film, buku-buku pelajaran, ataupun media lainnya.

Melalui bukunya penulis mengajak pembaca untuk melihat dengan lebih kuat pada tujuan-tujuan (politis) dari sebuah pemberitaan yang sering kali diterima sebagai sebuah realitas. Penulisan tidak pula untuk mengeneralisasikan media, dan membuat “label” baru pada media. Ketika terlalu banyak kepentingan yang harus diakomodir oleh media dan terjadi penjajahan ruang-ruang publik, sangat sulit bagi kita untuk mencari kejernihan fakta.