Rindu tanpa Perang : Pengalaman Wartawan Meliput Konflik Aceh

0
104

Menyadari pentingnya literasi, berbagi pengalaman dari jurnalis adalah sesuatu yang dibutuhkan. Pengalaman hidup perlu dibagi, perjalanan hidup yang ada harus diapresiasi. Demikian juga dengan pengalaman hidup dan suka dan duka kalangan jurnalis saat bertugas di lapangan.

Berangkat dari pemahaman itulah, kami menurunkan tulisan pengalaman empiris sejumlah jurnalis yang pernah menekuni lika-liku meliput konflik dengan beragam perniknya. Menjalani liputan di bawah tekanan dan juga kewaspadaan bukan perkara mudah. Ada yang selamat, ada yang harus krhilangan nyawa. Tapi, yang lebih kita sayangkan lagi tidak sedikit yang kehilangan independensi karena kondisi konflik yang sebenarnya tak pernah kita inginkan.

Buku ini dituliskan karena menurut Prof Dr.Bachtiar Aly-Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia waktu itu—menjadi pemateri bersama Pemred Majalah Tempo Wahyu Muryadi dalam sebuah pelatihan “Jurnalisme Damai” yang diselenggarakan AJI Banda Aceh bersama Katahati Institute dan dibantu Kedubes Jepang di Jakarta bahwa mendokumentasi pengalaman sangat penting untuk diri sendiri dan generasi kedepan. Dan beliau bersedia menulis pengantar untuk buku tersebut.

Di antara sejumlah ada teman-teman yang bertugas dan berdomisili di Aceh, ada yang sudah hijrah ke luar Serambi Mekkah, dan ada pula yang pernah bertugas di Aceh tapi sudah kembali ke tempat asal masing-masing. Demikian juga tentang status mereka. Ada yang masih konsisten dan bertahan di dunia jurnalis, sebagian lagi sudah tidak menekuni profesi ini.

Integritas wartawan sebagai pewaris tradisi sejaraha perjuangan, membakti diri kepada rakyat; untuk cita-cita bangsanya, kebenaran dan keadilan, haruslah berteriak dengan segala resiko. Tugasnya mendapatkan berita, merekam fakta, menghimpun data, dan menyuarakan untuk suatu kebaikan. Catatan jurnalis yang disaji dalam buku ini hanyalah serpihan dari sekian banyak pengalaman kaum jurnalis yang meliput di wilayah konflik, terutama konflik Aceh selama hampir 32 tahun hingga berakhir dengan MoU Helsinki, 15 Agustus 2005.

Jurnalis memiliki kontribusi besar dalam pembangunan Aceh, baik fase konflik maupun pasca perdamaian MoU Helsinki. Membaca buku ini, kia dihadapkan pada dua hal; konflik dan keberanian jurnalis. Paparannya bersandar dari pengalaman langsung para jurnalis, baik insider maupun ousider. Makanya buku ini wajib dimiliki oleh beragam profesi untuk melihat Aceh Kontemporer.

Judul Buku : Rindu tanpa Perang : Pengalaman Wartawan Meliput Konflik Aceh
Penulis : Adi Warsidi, dkk
Penyunting : Fakhrurradzie Gade
Penerbit : Bandar Publishing
Cetak : Pertama, Oktober 2016
ISBN : 978-602-1632-67-3
Tebal : xiv + 208 hlm

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here