Mantra Awan; Apa yang Salah dengan Membaca Mantra?

0
211

Awan kopi, kami menyebutnya begitu karena setiap hari kami melihatnya berada di kebun kopi, diantara dahan-dahan yang menjuntai menyentuh para petani.

“coba perhatikan, jika dia berada di antara batang-batang kopi itu dia pasti bernyayi. Jika ia mendengar derit pintu rumah kita, tiba-tiba saja dia sudah mendekat dan menyapa. Ooo, Ipak! Apa bukan peyihir itu namanya? Kakek lampir!” Ayesah menambahkan, menakuti pula.

Aku pernah mendengar jika petani kopi tradisional membacakan sejenis mantra untuk menikahkan kopi dengan alam mereka.

Apa yang salah dengan membaca mantra? Kudengar orang Gayo memiliki tradisi itu ketika merawat kopi-kopinya.

Di seberang sana Awan sedang berjongkok dengan parang di pinggangnya. Ia bernyayi dengan suara melengking diantara batang kopi dan merapalkan kalimat-kalimat itu saja:

Bismillah

Siti kewe

Kunikahen ko orom kuyu

Wih kin walimu

Tanoh kin saksimu

Lo kin saksi kalammu

Inilah Mantra Awan yang membuat Ayesha dan saudaranya menjadi takut, lalu bagaimana kisah Awan selanjutnya?.

Buku ini selain menjelaskan Mantra Awan juga membahas tentang Pesan dari Belantara Gayo yang menjadi salah satu bagian dari buku ini, lalu ada cerita Kenduri Blang, Amalan Ibu, Paya Ilang, Dalail Khairat, Asa Si Malin, Mak Tam, Nasi Berkat, Meja Makan, Rencong Pusaka, dan terakhir Baju lebaran.

Judul Buku                  : Mantra Awan; Apa yang Salah dengan Membaca Mantra?

Penulis                         : Cut Dira Miranda, dkk

Penyunting                  : Fairus M. Nur Ibrahim

Dicetak oleh                : Bandar Publishing

Cetak                           : Pertama, Nopember 2017

ISBN                           : 978-602-8307-31-4

Tebal                           : vii + 110 hlm

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here