Bulan di Langit Pedir; Mesir dan Aceh adalah Dua Kebudayaan yang Menawan

0
257

Novel Bulan di Langit Pedir hadir sebagai solusi dari kegersangan novel-novel berlatar belakang budaya lokal di Indonesia. Novel ini menjadi pengetahuan penting tentang dua budaya yang kontras berbeda. Pertama budaya Timur Tengah, Mesir kedua budaya lokal ke-Acehan yang kental.

Isi novel ini mengajak pembaca untuk memahami budaya Aceh sebagai tempat lahir novelis dan Mesir tempat menempuh pendidikan dengan alur kisah yang menawan.

Novel ini mengisahkan seluk beluk perjuangan manusia menggapai impiannya. Kekhasan dari novel ini tak lepas dari cerita kearifan lokal tanah rencong Aceh.

Mesir dan Aceh sama-sama mempunyai lagu atau syair tentang manusia yang sedang dilanda cinta. Sehingga membuat rindu Zaidon terhadap Pedir tak terbendung.

“Rinduku pada pedir seperti mengalir begitu saja dalam setiap celah jari. Seperti rindunya Majnun pada Laila, ini seperti rindu kepada sang kekasih”, seorang penyair pernah bersenandung seperti ini “uhibbuki hubban jamman”.

Zaidon merupakan tokoh yang dikisahkan dalam novel ini, yaitu seorang mahasiwa asal Pedir yang baru saja lulus di Universitas Al-Azhar Kairo. Sebuah tragedi nahas hampir saja merengut nyawanya ketika hendak mengikuti seminar Internasional.

Sementara itu di desa Pedir yang ditinggalinya, Cut Buleun sang kekasih Zaidon telah berubah,ia sering bertingkah aneh dan berteriak-teriak. Ia di guna-guna oleh sahabat masa kecil Zaidon. Zaidon pun tak habis pikir kenapa sahabatnya bisa merubah menjadi orang sepeti itu.

Judul Buku                  : Bulan di Langit Pedir; Mesir dan Aceh adalah Dua Kebudayaan yang Menawan

Penulis                         : Azmi Abubakar

Penyunting                  : Kantjana Malik

Dicetak oleh                : Bandar Publishing

Cetak                           : Pertama, Oktober 2017

ISBN                           : 978-602-5455-59-9

Tebal                           : 110 hlm

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here