Khawuri

13 June 2016 - Kategori Blog

Oleh : Sulaiman Tripa | Pemilik Blog Kupiluho

Ketika satu pertanyaan yang tidak serius saya ajukan dalam satu pertemuan warung kopi, soal hajatan apa yang paling banyak berlangsung ketika mendekati pemilihan kepala daerah, dengan sangat mantap, seorang teman menjawab: kenduri. Tetapi tunggu dulu, sebelum ke fokus sebenarnya, mari ke lokus dulu: warung kopi.

Saya menganggap warung kopi ini, di luar sebagai tempat penyedia kopi dan berbagai juadah, bisa menjadi tempat yang serius dan tidak serius. Sejauhmana ia ingin dimanfaatkan oleh orang-orang datang mengunjunginya.

Saya ambil contoh pertemuan dengan teman saya itu, tak selamanya serius, karena kenyataannya ketika jumpa di warung kopi, ada kesempatan untuk membicarakan masalah secara tidak serius. Namun bukan berarti ia tidak bisa menjadi tempat yang sangat serius. Ketika pulang terakhir dan warung kopi menjadi tempat jamuan bagi saya yang dianggap tamu oleh teman-teman saya, maka posisi demikian, tempat ini menjadi sangat serius dan bersahaja. Siapa tidak setuju bahwa menjamu seseorang itu bukan sesuatu yang serius?

Apalagi kondisi kekinian, ada kecenderungan semakin banyak diskusi serius yang berlangsung di warung kopi. Bedanya mungkin suasananya yang lebih santai. Tak sebatas diskusi sederhana, melainkan acara-acara yang dilaksanakan oleh lembaga sangat formal sekalipun, sudah banyak memilih warung kopi sebagai tempat alternatifnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan saya membaca, polisi dan tentara pun, ketika mengkomunikasikan berbagai hal terkait dengan masyarakat luas, mulai juga menggunakan jalur warung kopi sebagai jalur alternatif.

Lembaga tertentu yang secara formal tidak bisa dalam keadaan santai, kenyataannya untuk mendapatkan hubungan dengan banyak pihak agar bisa lebih cepat tersampaikan apa yang diinginkan, maka jalur ini sudah mulai digunakan. Belum lagi beberapa menteri yang berkunjung dan berdikusi di warung kopi. Luar biasa. Hal-hal yang ingin dikomunikasikan untuk kepentingan yang sangat fundamental kehidupan kita, tidak jarang menggunakan tempat ini juga sebagai alternatif dalam mengkomunikasikannya.

Satu waktu saya berpapasan dengan polisi yang ingin memperkenalkan konsep polisi masyarakat di sini. Di waktu yang lain, seorang kandidat kepala daerah, sengaja datang khusus duduk berlama-lama dan ia membayar semua orang yang minum kopi hari itu. Tentu yang datang adalah mereka yang selama ini juga sering ke warung kopi. Tidak dadakan. Orang yang hanya datang sekali-dua, menggunakan warung kopi sebagai tempatnya bersosialisasi, akan kelihatan canggungnya.

Begitulah warung kopi. Namun ketika dalam diskusi santai di sana, saya tanya dan mendapatkan jawaban tentang kenduri, maka bagi saya seyogianya menjadi masalah serius. Kenduri idealnya sebagai perpaduan antara makan bersama, mensyukuri nikmat, dan melakukan sosialisasi sekaligus internalisasi bagi warga masyarakatnya. Bagi saya semua hakikat dari dilaksanakan kenduri ini, merupakan hal yang serius.

Akan tetapi bukan hal yang main-main juga ketika teman saya menjawab kenduri sebagai hal yang paling dilaksanakan. Walau dalam suasana yang tidak serius, saya yakin ia menjawab isinya dengan serius.

Kenduri, ada berbagai istilah kita yang sepadan untuk itu. Kamus Umum Indonesia-Aceh yang disusun M. Hasan Basry (Yayasan Cakra Daru, 1994), menggunakan beberapa kata terkait dengan kenduri, yakni kanduri, khanuri, dan khawuri.

Agak unik dan memungkinkan dilaksanakan banyak even. Pertama, karena didukung oleh kondisi masyarakat kita yang sangat banyak mengenal even khawuri. Sepanjang waktu kalender, jumlah hari yang merupakan even khawuri selalu tersedia. Kedua, ada pemanfaatan peluang baru dengan mendayagunakan berbagai even itu secara kreatif bagi kepentingannya. Mereka yang berkepentingan akan menggunakan berbagai even, untuk semakin memperpanjang momentum kebersamaan dengan orang-orang yang diinginkan.

Maka ketika mendekati masa di mana kita membutuhkan banyak orang lain, even inilah secara kreatif dijadikan sebagai magnit. Mereka yang memiliki hajat juga berubah, tidak hanya mereka yang sedang membutuhkan dukungan. Perubahan ini antara lain, dengan banyaknya orang biasa yang melaksanakan hajat dengan asumsi apabila diundang calon-calon orang penting, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak memenuhinya. Nah, kan?