Ini Cerita Kemiskinan di Aceh

10 August 2017 - Kategori Blog

Oleh: Mukhlisudidn Ilyas

Pengantar

Cerita kemiskinan ini telah dibukukan oleh Bappeda Provinsi Aceh dalam judul Potret Kemiskinan di Aceh: Angka dan Narasi. Salah satu potret cerita dari hasil tulisan ini telah menjadi rujukan Edi Fadhil untuk menggalang dana membuat rumah mereka. Berikut ceritanya dari tiga keluarga di Aceh (Sawang Aceh Utara).

Cerita Zakaria Dari Lhok Krek

Setelah melakukan pertemuan dan wawancara dengan keuchik Jailani. Kami sama-sama mengunjungi dan melakukan pertemuan selama 3 jam dengan Kepala Keluarga (KK), Bapak Zakaria. Ia lahir pada tanggal 08 Agustus 1965. Dan Istrinya Zainabon kelahiran tanggal 30 Juni 1972. Keduanya adalah tamatan Sekolah Dasar (SD). Begitu juga dengan pekerjaannya, sama-sama sebagai buruh tani.

Bersama 8 orang anaknya terdiri dari Baharuddin, Yusriadin, Saifuddin, Nurfida, Marlinda, Muhammad, Mahdalena dan Mistahul Jannah. Mereka tinggal di atas 400 meter tanah hibah dari familinya Zainabon, bernama Abdullah sejak tahun 2005. Diatas sepetak tanoh tersebut, mereka bangun rumah ber ukuran 4×5 meter, dan dapur 2×5. Rumah yang beralaskan tanah, dinding bambu dan atap dari daun rumbia, ditambah sedikit kekuatan rumah dari fondasi batu bata dengan ketinggian 0,5 meter supaya tidak roboh.

Rupanya, dalam rumah tersebut, bukan zakarian, istri dan 8 orang anaknya saja yang tinggal. Di belakang rumah, sejajar dengan dapur yang ber ukuran 2×5 meter masih bersambung dengan rumah, seperti di atas panggung, tertidur Ibu dari istri Zainabon, namanya Ti Rahmat (75 thn). Dalam rumah sederhana tersebut, jadilah mereka tinggal 11 orang. Saya tak berani menanyakan bagaiman mereka tidur, karena mendengar ceritanya beberapa orang tetangga yang ikut wawancara ikut terdiam. Tetangganya juga miskin.

Dari 8 orang anaknya, 3 orang masih sekolah. Mistahul Jannad kelas 2 SD, Mahdalena kelas 3 SD, dan Muhammad kelas 2 SMP. Semua anak Zakaria-Zainabon tidak pernah menempuh SMA/sederajat, karena jarak tempuh SMA berkisar 7 km. Menurutnya mereka tidak mampu memberi ongkos perjalanan sekolah anak-anak mereka. Marlinda dan Nurfidah seharusnya akan duduk di kelas 2 dan 3 SMA jika mereka ada biaya untuk perjalanan ke sekolahnya.

Sebagai buruh tani dan tidak memiliki tanah selain tanah hibah yang di jadikan lokasi rumah saat ini. Zakaria-Zainabon juga tidak mendapat bantuan dari Pemerintah, kecuali Beras Raskin. Beasiswa untuk anaknya yang masih sekolah di SD dan SMP menurutnya diberikan 1 tahun sekali. Per Tahun, anaknya mendapat beasiswa 70 Ribu Rupiah. Soal ini, ketika pulang meninggalkan rumah Zakaria, saya verifkasi kepada Keuchik Lhok Krek, Jailani. Menurutnya, beasiswa anak miskin di sekolah tidak semua di akomodir, itu mungkin kebijakan sekolah untuk membagi rata. Makanya jumlahnya 70 ribu rupiah per/tahun.

Sebagai buruh tani. Jika ada pekerja yang diberikan warga desa kepadanya akan diberikan 50 rb/hari. Anaknya yang sudah putus sekolah juga semuanya menjadi buruh tani dan pekerjaan lainnya jika ada tawaran dari orang sekitar (mocok-mocok). Muhammad yang duduk kelas 2 SMP, ia menjadi petugas yang berdiri ditengah jalan kecamatan untuk sumbangan Meunasah/masjid. Ketika saya pulang, saya melihat memang Muhammad yang berdiri ditengah jalan untuk sumbangan ke masjid.

Menurut Zainabon, ia memiliki pekerjaan sampingan anyaman tikar, tapi menurutnya tidak menghasilkan, dan lebih mudah menjadi buruh tani. Warga desa pernah menawarkannya mendapatkan SPP (Simpan Pinjam Perempuan) dari program PNPM. Tapi ia menolak, karena takut tidak mampu membayar nantinya. “nyee lon cok SPP, takot han ek tabaye” Begitu katanya.

Sebelumnya, Zakaria dan Zainabon tinggal di desa asal Zakaria, di Alue Geurubak. Setelah Tsunami dan MoU Helsinki mereka tinggal di Desa Lhok Krek, desa asal Zainabon. Semasa tinggal di Alue Geurobak, Zakaria-Zainabon berkebun di gunung, menjadi buruh kebun. Pernah waktu konflik, mereka sekeluarga dikira anggota GAM oleh TNI. Senjata laras pernah dimasukkan ke dalam mulut Zakaria. Karena bukan GAM, akhirnya TNI iba melihat Zakaria dan istrinya Zainabon karena anak-anak mereka masih kecil-kecil. TNI akhirnya menyerahkan uang 20 ribu rupiah waktu itu. Walau sebelumnya sempat disuruh berdoa sebelum akan ditembak.

Karena tidak memiliki skil. Menurutnya, bila ada intervensi baik pemerintah maupun swasta untuk mengurangi kemiskinan yang menderitanya. Ia mau rehab atau dibangun rumah yang layak. Memelihara lembu atau kambing dan meukat pisang (dagang).

Desa Lhok Krek sangat potensial untuk penernakan sapi dan kambing. Makanya bila Zakaria-Zainabon memiliki kemampuan mereka akan memelihara Lembu dan kambing di sekitar rumahnya.

Zakaria sebelum menjadi buruh tani, pernah menjadi pedagang pisang. Awalnya menjadi kernet toke pisang di sekitar desanya lalu menjualnya ke Banda Aceh dengan mobil bersama tokenya. Jadi modal usaha dagang relevan dengan pengalaman Zakarian dalam upaya mereduksi mata rantai kemiskinan. Melihat kisah hidup 11 orang anak manusia dengan rumah yang tidak humanis, ditambah mata pencaharian tak menentu, membuat gusar saya dan tarmizi. Dalam perjalan pulang, kami berjumpa Muhammad, anaknya Zakaria yang sedang duduk kelas 2 SMP. Kami berhenti lalu memberi sedekah untuknya. Bukan untuk mesjid. “Nyoe untuk drokeh nyak beh” Kata saya pada Muhammad. Lalu saya lanjutkan perjalan pulang didampingi kawan baru saya yang setia Tarmizi dari Muara Batu.

Cerita Marjannah Dari Lhok Gajah

Namanya Marjannah (42 th). Sekarang menetap di Desa kelahirnnya, Desa Lhok Gajah, Kecamatang Sawang. Aceh Utara. Masa mudanya ia habisnya di Kota Lhokseumawe. Di kota Lhokseumawe pula, Marjannah berkenalan dengan pria asal Brastagi, Sumatera Utara, bernama Usali. Usali beragama Kristen. Sebelum menikah, Marjannah ikut meng-islam-kan Usali. Akhirnya setelah Usali memeluk agama Islam di Lhokseumawe, Usali berganti nama menjadi Habibullah (42 thn).

Setelah menikah di Lhokseumawe. Sejak tahun 1998-2002 Marjannah-Habibullah tinggal di desa Lhok Gajah. Mereka menempati rumah panggung peninggalan warisan orang tua Marjannah. Sebagai Muallaf, suami Marjannah rajin ikut pengajian mulai di dayah di desanya sampai ke Dayah milik Teungku Zarkasyi di Panton Labu. Marjannah merasa bangga, karena memiliki suami muallaf yang taat.

Namun, seiring kondisi Aceh tidak kondusif. Mulai tahun 2002-2008, Marjannah-Habullah hijrah untuk tinggal di Lhokseumawe. Kota Lhokseumawe lumanyan aman, untuk seorang pendatang dan muallaf pula. Mereka membangun rumah di Hagu, diatas tanah orang kaya setempat. Setelah lebih dulu mereka minta izin.

Rupanya kondisi Aceh dan kondisi ekonomi keluarga Marjannah juga tidak lepas dari kemiskinan. Saudaranya di Lhokseumawe sering membantunya untuk kehidupan sehari-hari. Ditengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, suaminya pulang ke Brastagi.

Lama kemudian, dalam periode 2011-2013, Marjannah-Habibullah tinggal di dusun blang ranto, desa Riseh kecamatan Sawang. Dusun Blang Ranto, Desa Riseh berdekatan dengan Bener Meuriah. Disana mereka menjadi buruh kebun. Supaya tidak menghabiskan waktu pulang ke Desa Lhok Gajah, yang jaraknya melebihi 10 Km, maka mereka memutuskan tinggal dalam perkebunan dengan membuat gubuk untuk mereka tinggal bersama seorang anak perempuannya, bernama Sani Safutri (14 thn) dan Wali Al Khalidin (5 thn).

Karena penghasilan yang tak menentu di perkebunan orang. Maka ia memutuskan pulang ke Desa Lhok Gajah, beserta kedua anaknya sejak 2013. Habibullah memilih tinggal di Dusun Blang Ranto Desa Riseh, masih dalam kecamatan Sawang dengan jarak tempuh 12 Km..

Kebutuhan lahir dan bathin masih diberikan Hasbullah kepada istri dan anaknya. Menurut Marjannah, sebulan ia diberikan uang berapa yang ada, adakalanya 300 ribu/bulan, ada juga 200/per bulan. Marjannah tidak memakai handphone, begitu juga dengan anaknya. Hasbullah yang menghubungi melalui keluarga Marjannah yang memakai handphone. Kalau sudah mendapat kabar seperti itu, Marjannah pergi menyusul suaminya untuk mengambil uang dari suaminya. Sebaliknya, kalau musim panen tiba di Desa Lhok Gajah, giliran suaminya pulang untuk menjadi buruh tani sama keluarga dan warga Lhok Gajah.

Karena rumah warisan dari orang tuanya lama tidak ia tempati, maka rumah itu rubuh dengan sendirinya. Makanya saat ini, ia tinggal diatas tanah warisan orang tuanya seluas lebih kurang 10×28 meter. Ditengahnya ia buat rumah mirip gubuk untuk ditempati Marjannah berserta kedua anaknya. Di desa Lhok Gajah, sehari-hari ia menjadi buruh tani. Karena ia tidak memiliki sawah, kecuali tanah diatas gubuk itu yang menjadi miliknya.

Anak perempuannya, Sani Safutri tidak melanjutkan sekolah ke menegah atas, karena tidak ada biaya beli seragam sekolah. Sudah 1 tahun Sani menjadi pengangguran. Dari jawaban yang ia berikan kepada saya, terlihat ia sangat berkeingan masuk ke SMK. Sebelumnya, Sani sekolah di SMP 6 Blang Ranto, disana ia mendapat rangking 2 selama sekolah disana.

Selama di Lhok Gajah, Sani kadang-kadang ikut membantu ibunya jadi buruh tani. Sani sedikit berbeda nasib dengan adiknya, Wali Al Khalidin (5 th). Wali masih sekolah di TK. Iuran SPP Wali per bulan hanya 8 ribu rupiah. Ketika kami duduk di rumah mereka. Wali sedang bermain di sawah beserta 2 temannya. Sani mau memanggil adiknya. Tapi kami melarangnya, karena terlihat dari jauh Wali sedang bermain air di sawah dengan 2 orang temannya. Kata Sani, adiknya baru saja pulang sekolah. Setelah buka baju, langsung ke sawah, mandi di parit sawat dengan anak-anak di tetangganya.

Wali tidak pernah sakit keras. Berbeda dengan Sani dan Ibunya yang pernah sakit sejak tinggal di rumahnya saat ini. Sani sempat satu bulan penuh selama bulan puasa i opname di Puskemas Tumpok Teungoh Kota Lhokseumawe. Awalnya Sani demam seperti biasa, kemudian di jemput oleh kakak ibunya dari lhokseumawe, lalu dibawa berobat. Menurut ceritanya, ia sakit tipes. Alhamdullah saat ini sudah sembuh.

Begitu juga dengan Sani. Ibunya, Marjannah. Belakangan ia mengidap penyakit sesak. Satu bulan sekali, ia harus berobat ke Rumah Sakit Umum di Buket Rata. Obat somprot 1 unit untuk satu bulan. Kalau tidak maka sesaknya kambuh. Menurutnya, per/bulan ia harus menyiapkan biaya 150 Ribu untuk biaya perjalanan saja dari Sawang ke Bukek Rata. Hasil upahan kerja buruh tani ia sisihkan untuk perjalanan pengobatannya.

Bagi Marjannah, bila tidak ada kerja tani, ia membantu tetangga apa yang disuruh. Di belakang rumahnya ia tanam cabai sedikit. Menurutnya karena tidak ada pagar, maka semua tanaman tidak bisa kita tanam, di makan kambing orang.

Marjannah memiliki mimpi untuk tetap ingin menyekolahkan kedua anaknya ke jenjang lebih tinggi. Harapan kedepan jika ada rezki, ia akan membuka kios dan jualan mie caluk di depan rumahnya. Karena rumahnya berpasan di depan jalan utama desa. Dulu waktu muda, Marjannah pernah jualan di Lhokseumawe. Kini Marjannah berharap kelak suatu ketika bisa jualan lagi, supaya ada biaya untuk sekolah anaknya

Cerita Rosnidar Dari Lancok

Setelah hampir 3 jam berdikusi dengan kepala Desa Lancok, bapak Adnan yang di dampingi Tuha Peut, bapak Ishak Husein. Saya diantar oleh Pak Ishak ke rumah Rosnidar (20 th). Awalnya pak kuechik mau mengantari kami sendiri, tapi saya lihat beliau sedang sibuk sekali membangi beras raskin kepada warganya. Warga berjejeran ketika kami berdiskusi tentang penyebab kemiskinan desanya.

Ketika kami tiba dirumah Rosnidar, saya melihat satu unit rumah yang berlantai tanah, dan tinggal sendirian di rumah. Rupanya itu adalah rumahnya ibu mertuanya. Rosnidar (20 thn) dan suaminya Murtala (24 thn) adalah pasangan muda miskin yang sudah memiliki 1 orang anak berumur (4 thn), M Yanis. M Yanis belum sekolah. Ketika kami wawancara, Rosnidar ditemani anak dan ibu mertuanya. Murtala bekerja sebagai agen (muge) buah dan sayur-sayuran. Pergi pagi pulang malam, pendapatan suaminya maksimal per hari 50 ribu. Mereka keluarga miskin yang tidak memiliki tanah sawah sama sekali. Kadang kala, Rosnidar kalau lagi musim panen menjadi buruh tani juga.

Rosnidar sebenarnya mau bekerja untuk menopang perekonomian keluarganya. Tapi ia tidak tahu harus bekerja apa, kecuali menjadi buruh tani jika musim panen tiba. Keluarganya memiliki 1 ekor sapi. Rosnidar yang menjaga setiap harinya, sedang suami yang mencari makan sapi jika cepat pulang dari kerjanya.

Rosnidar berharap ada yang bisa membantu rumah mertuanya, karena ia tinggal sendiri di samping rumah Rosnidar. Rumahnya berlantai tanah, dapur dan kasur berdekatan dalam satu ruang. Apalagi sering sakit-sakitan mertuanya. Di desanya tidak ada tenaga kesehatan, jika anggota keluarganya sakit, mereka datang ke desa tetangga, berjarak 2 Km. Sekian 🙂