Habib Muda Seunagan, Ulama Penentang Pemberontakan Aceh

13 June 2016 - Kategori Blog

 

G.F.V. Gosenson, yang menjadi pemimpin Pasukan Marsose di Jeuram (Pantai Barat Aceh) yang saat itu masih berpangkat Letnan Satu, mengalami luka-luka dengan kondisi cacat pada mukanya akibat terkenan tetakan senjata tajam oleh pasukan “Peudeung Payang” dibawah pimpinan Pang Barat Sihim (Pang Brahim) pada 29 Desember 1917 di dekat kampung Suak Bili, Seunagan, Nagan Raya sekarang. Luka yang dialami oleh pimpinan pasukan paling ganas masa Belanda itu, menjadi kenang-kenangan bagi Gosenson hingga dia menjalani hukuman mati dibawah pengadilan Jepang di Bukit Tinggi pada 9 Januari 1945. Begitulah ulasan H.T. Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh”.

Adalah Habib Muda Seunagan yang akrab ditulis dalam narasi sejarah perang Belanda – Aceh sebagai Teungku Puteh. Sosok yang menjadi aktor intelektual dibelakang layar atas apa yang terjadi dan dialami oleh Kolonel G.F.V. Gosenson saat itu. Pang Brahim dengan rambongan pasukan yang begitu kuat menghunus pedang ke wajahnya, merupakan murid dan pengikut dari Habib Muda Seunagan, salah satu sosok yang begitu gigih menentang agresi Belanda di wilayah Barat-Selatan Aceh. Sebelumnya, tahun 1925 kondisi Prang Sabi di wilayah barat-selatan semakin memanas dan menjadi momok bagi pasukan Belanda, salah satu sebabnya adalah pasukan dan pengikut Teungku Puteh (Habib Muda Seunagan) bersama dengan sisa pasukan Teuku Ben Blang Pidie terus menggelorakan perlawanan, sehingga keduanya menjadi figur yang sangat ditakuti dan dianggap berbahaya oleh Belanda.

Namanya tidak begitu masyhur dalam ingatan masyarakat Aceh pesisir Timur dan Utara pun tidak semegah Teuku Umar, Tengku Chik di Tiro atau Tengku Chik Tanoh Abee yang mendominasi narasi sejarah ulama pejuang Aceh hari ini. Hal ini dikarenakan oleh minimnya data dan dokumen sejarah yang mendeskripsikan tentang sosoknya, lebih-lebih cerita mengenainya hanya berkembang secara lisan (oral history). Padahal, Habib Muda Seunagan merupakan ulama dengan integritas yang tinggi, berkomitmen dan tangguh pada masanya. Untuk itulah, kehadiran buku ini memberikan kita jawaban dan informasi yang akurat terkait kiprahnya dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, Jepang dan berdiri tegak menentang pemberontakan yang menggerogoti integritas negara Republik Indonesia, sebagaimana diulas secara apik dalam buku ini pada Bagian Pertama tentang sejarah hidupnya.

Tidak hanya itu, masih pada bagian yang sama dalam buku ini, juga dijelaskan bagaimana Abu Habib Muda Seunagan bersanding dengan tokoh ulama kharismatik Aceh lainnya; Abuya Muda Wali Al Khalidy dan Abu Hasan Kreung Kale sebagai tokoh agama yang melawan dan menentang pemberontakan Darul Islam yang terjadi di Aceh. Baginya, pemberontakan terhadap ulil amri dan negara yang sah merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan oleh ajaran Islam, dalam nomeklatur syariat Islam pemberontakan tersebut dinilainya sebagai bughahyang Haram secara hukum agama. Menariknya, komitmen perlawanannya terhadap pemberontakan yang digerakkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh ini dibuktikan secara tegas dalam sikap Habib Muda Seunangan. Sehingga, buku ini menjadi salah satu rekomendasi terbaik untuk melihat bagaimana perlawanan antara dua kubu ulama Aceh; yang mendukung dan menolak pemberontakan Darul Islam di Aceh, khususnya oleh Habib Muda Seunangan. Sikap itulah yang mengantarkan beliau menjadi figur yang sangat dekat dengan Pemerintah, khususnya Presiden Sukarno dan menjadi tokoh Republiken sejati dalam menjaga intergitas dan keutuhan Republik Indonesia di Aceh. Tradisi penolakan dan perlawanan atas upaya kelompok pemberontak terus dilanjutkan oleh Pemegang Amanah Keluarga Besar Abu Habib Muda Seunagan hingga Indonesia berkonflik dengan Gerakan Aceh Merdeka.

Disamping itu, Bagian Kedua buku ini menjelaskan bagaimana praktek Tarekat Syattariyah yang dimotori oleh Habib Muda Seunagan dipersepsikan oleh lawan-lawannya sebagai ajaran yang menyimpang dan sesat dengan sebutan salek buta, dan persepsi ini masih berkembang pada sebahagian kalangan di Aceh saat ini.  Jika dianalisa dengan pendekatan perspektif politik, tuduhan salek buta khususnya oleh Teungku Abdullah Ujong Rimba terhadap praktek tarekat Habib Muda tersebut lebih terindikasi sebagai sikap politis, mengingat Teungku Abdullah Ujong Rimba salah satu tokoh agama yang dekat dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam melakukan pemberontakan dan Habib Muda Seunagan adalah tokoh yang menentangnya. Pun demikian, buku ini memberi jawaban dengan data dan fakta primer yang utuh bahwa segala tuduhan tersebut merupakan asumsi belaka, hal ini terlihat jelas bagaimana silsilah Tarekat Syattariyah Habib Muda Seunagan ditampilkan dalam buku ini, dimana sanad tarekatnya bersambung melalui jalur Syaikh Muhammad Khatib Langien, ulama tasawuf Aceh yang menganut neo-sufisme pada masa Sultan Alaiddin Sulaiman Ali Iskandarsyah (1836-1857 M).

Menariknya lagi, buku yang mengulas sosok ulama negarawan yang diperkirakan lahir pada tahun 1870 Masehi ini menjadi anti-tesis untuk membantah tulisan Snouck Hurgronje yang mengatakan bahwa Habib Muda Seunagan bukanlah keturunan Sayyid, atau membantah sub-bab disertasinya Prof. Misri A. Muchsin yang memposisikan Tarekat Syattariyah-nya Habib Muda sebagai salek buta. Buku yang ditulis dalam perspektif keluarga Habib Muda Seunagan ini memberikan banyak jawaban kepada kita terkait ketokohan dan peranan Habib Muda Seunangan baik sebagi tokoh agama, politik, dan pejuang serta menjadi penyeimbang terhadap narasi dan teks yang berbeda tentang kiprahnya.

Buku ini terdiri dari Lima Bagian; mulai dari sejarah hidup, ajaran, keteladanan dan politik, menawarkan paradigma baru dalam kajian sosial dan humainora, khususnya terkait dengan (kajian) Habib Muda Seunagan yang wafat pada 14 Juni 1972 ini sebagai sosok yang tidak familiar dalam narasi sejarah, diramu secara ringan oleh para penulis  yang berangkat dari oral history menjadilife story disandingkan dengan data, dokumen dan fakta yang begitu autentik sehingga menjadi salah satu buku pilihan bagi pengkaji ilmu sejarah dan politik pergerakan di Aceh. Tidak hanya itu, dengan kekuatan data dan argumentasinya, kita bisa mendapatkan gagasan bagaimana Tarekat Syattariyah itu sebenarnya dipraktekkan dan juga alasan mengapa pemberontakan Darul Islam (DI) tidak mendapat tempat dalam keluarga Habib Muda Seunagan dari dulu hingga sekarang. Beliau dan keluarganya adalah simbol keyakinan bagaimana melawan suatu kesalahan yang terlanjur dianggap benar. Menarik, buku ini buktinya! (Sumber http://www.acehtrend.co)

Oleh : Haekal Afifa

Judul Buku                   : Abu Habib Muda Seunagan Republiken Sejati Dari Aceh:Hidup, Ajaran dan Perjuangan

Penulis                           : Sehat Ihsan Shadiqin, Mukhlisuddin Ilyas, Ardiyansyah

Epilog                            : Taufik Al Mubarak

Editor                            : Fakhrurradzie Gade

Layout                           : Pozan Matang

Penerbit                         : Bandar Publishing, Banda Aceh

Terbit                            : November, 2015

Ukuran                          : 13.5 x 21 cm

Jumlah Halaman          : vii + 416 hlm

Cover & Isi                   : Hard Cover & Bookpaper

ISBN                              : 978-602-1632-50-5

Harga                            : Rp.195.000. Bagi Reseller diskon 25 persen.

***