Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki

0
35

Sejarah merupakan wacana yang selalu aktual. Sejarah tidakkenal kadaluarsa, expired. Kecuali, jika sejarah dimanipulasi sedemikian rupa untuk kepentingan tertentu.

Sultan Iskandar Muda: Kita semua, termasuk elite politik, dengan pongahnya menuding Aceh sebagai ekstremis dan perusuh. Tetapi, kita bukannya mencari jawaban mengapa mereka bertindak demikian, melainkan memuji pemerintah pusat di Jakarta yang coba menyelasaikan masalah Aceh dengan Kekerasan. (Maruli Tobing, Kekerasan di Aceh, Sebuah Perjalanan panjang, Kompas, Sabtu 8 September 2000)

Kesan stigma Aceh sangat bertolak belakang antara laporan yang berkembang di Jakarta dengan kenyataan masyarakat serta situasi dan kondisi sebenarnya di Aceh. Selama ini Aceh dikaitkan dalam kriminalitas peyebaran narkoba. Orang Aceh diidentikkan berperilaku radikal, fanatik sektarianistik dan reaktif serta agresif.

Begitu pula dalam berbagai cerita yang menempatkan orang Aceh itu serba bodoh. Selain itu orang Aceh juga dikenal dengan “Tipu Aceh”. Dan masih banyak lagi stigma negatif kepada orang Aceh.

Faktor-faktor di atas mempengaruhi pandangan publik non Aceh tentang orang Aceh. Media juga melakukan “trial by press” menjerumuskan dengan laporan dan pemberitaan serba menyudutkan orang Aceh.

Berbicara mengenai Aceh selalu saja diwarnai dengan kekerasan. Aceh digiring dengan konflik yang tak berujung dan pork-poranda sejak 1873. Sebelumnya Aceh sudah mengenal sistem pemerintahan modern di Asia tenggara terutama pada masa Kerajaan Samudera Pasai pada abad 14.

Aceh menjadi sebuah kerajaan yang kuab selama beberapa abad dan memiliki pengaruh budaya dan tradisi Melayu yang tersebar dari Sumatera hingga ke Semanjung Malaya.

Judul Buku : Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki

Penulis : Harry Kawilarang

Penyunting : Murizal Hamzah

Penerbit : Bandar Publishing

Cetak : Ketiga, Juni 2010

ISBN : 978-176845-2

Tebal : xxiv + 230 hlm

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here